ANTARANEWS.id — Anjangsana perusahaan berbasis digital, dilakukan usaha rintisan yang telah melayani 300 klien ke Sekretariat Asosiasi Media Digital Indonesia (AMDI).

Silaturahmi berlangsung 15 Agustus 2018, siang jelang sore di Gedung Sarinah MH Thamrin lantai 13, jl Thamrin no 11, Jakarta 10350.

TADA mengaku sebagai advocacy marketing platform pertama di Indonesia, merasa perlu ber-audince dengan pengurus AMDI.

Hadir mewakili perusahaan TADA adalah Jennifer Liang (Marketing Communications) dan Indah Setiawati (Commucation and Relation Manager).

Dalam kesempatan itu, TADA memaparkan perusahaannya semacam dompet digital, migrasi dari keanggotaan members kartu tradisional (kartu plastik yang suka ada di dompet).

Pada sekitar bulan Juni 2018 lalu, baru saja mendapatkan pendanaan seri B dari dua investor yaitu Finch Capital dan Soverign Capital.

TADA merupakan platform membership, berkaitan juga financial services. Adapun taglinenya:  for transactions to relationshipsfrom costumers to advocates.  

“Sebagai usaha rintisan (startup) penyedia platform marketing. Kami akan mencapai pasar global,” ujar Indah Setiawati, mengutip pernyataan Antonius Taufan, founder TADA.

“Kami akan membuka cabang di Singapura di Agustus ini, setelah sebelumnya membuka kantor cabang di Philipina,” demikian Jennifer Liang, mengulang pernyataan Antonius Taufan, sang CEO TADA.

TADA menyebut, mampu membantu para klien untuk meningkatkan penjualan produk melalui system reveral atau advocation custumer. Adapun sektornya food and beverage, fashion, hingga kesehatan juga farmasi.

Hadir dalam diskusi jalinan kerjasama adalah Dewan Pembina AMDI Ahmed Kurnia Soeriawidjaja, yang merupakan dosen dan coach serta Agi Sugiyanto, owner dari Beritaenam.com.

Sosok yang juga menjadi penasehat di tim “Indonesia Wonderful” itu menyebut, beberapa alternatif program yang bisa disinergikan TADA dengan AMDI, memiliki whitelist media massa, online kredibel dan patuh pada kode etik jurnalistik.

Baca Juga:  Ssssst, ini Kode Rahasia

Organisasi AMDI yang tak hanya terisi oleh para pemilik media digital atau CEO, Direktur Utama dari media digital. ”Juga bisa membantu publikasi branding dari 300 klien yang merupakan klien TADA,” ujar S.S Budi Raharjo, Ketua AMDI.

Organisasi AMDI memang menjadi wadah bagi pebisnis media tradisional cetak yang “hijrah” atau menjadi penopang para start up di media digital. Yang tergabung di Asosiasi Media Digital, Budi Jojo menyebut, banyak dari media maintream yang melebarkan sayap ke media online.

Juga anggotanya pemilik biro iklan, media placement di media digital. Bahkan, ada beberapa motivator (coach). “Mereka memiliki buku-buku yang dipasarkan dalam media digital,” ujar Jojo, pemred majalah MATRA.

Tampak hadir dalam pertemuan itu, para pengurus AMDI yakni Edi Winarto Sekjen AMDI yang merupakan owner Editor.id dan Asri Hadi (Bendahara AMDI) yang juga Pemred Indonews.id.

Tampak juga ikut berdiskusi Toto yang merupakan CEO BUMN Track (Ketua Bidang Kerjasama Pemerintahan) juga Tim Ahli IT AMDI Adhianto, yang aktif di biro iklan digital.

Sejarah telah mencatat, Asosiasi Media Digital menjadi organisasi pertama di bidang media digital yang juga peduli masalah CSR (corporate social responsibility).

AMDI berdiri pada awal Oktober 2016 silam, dirintis oleh orang-orang yang merupakan bagian dari Forum Pimpinan Media dan Pemred Media Digital, yang dicanangkan di Ampera Raya no 59, Kemang, Jakarta Selatan.

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.