• Sebuah foto yang diposting oleh Mbak Titik Hamzah – musisi legendaris dari Dara Puspita – di dinding Facebook-nya membangkitkan kenangan lama saya.

Itu bukan foto biasa. Foto itu adalah gabungan titik-titik legenda Indonesia. Mereka adalah Titiek Nur, Titiek Sandhora, Titi Dwi Jayati, Titik Hamzah, Titi Qadarsih dan Titiek Puspa.

Menurut keterangan, foto ini diambil pada 22 Mei 2016, setahun sebelum kepergian Titiek Nur. Sungguh mengharukan.

Dalam posting itu, Mbak Titik Hamzah hanya menguraikan nama nama dan tanggal lahir dari wajah wajah yang tampil.

Izinkan saya kini menguraikan mereka dan kenangannya dengan saya.

Mari kita absen searah jarum jam, dari kiri paling belakang ;

TITIEK NUR (18 Agustus 1958 – 19 September 2017), saya kenal sejak era 1980-an, ketika namanya masih melangit sebagai motor grup OM Ken Dedes – salahsatu pelopor grup musisi cewek di jalur dangdut. Saya wawancarai di kediamannya sekaligus markas OM Ken Dedes di Rumah Susun Tanah Abang – tak jauh dari pasar Tanah Abang.

Ketika menyambangi rumahnya, sore itu, saya banyak ngobrol dengan suaminya, seorang pensiunan ABRI. Galak tapi baik, tegas tapi ramah. Saya harus menunggu Titiek Nur pulang dari mengaji ketika saya sampai di rumahnya. Ketika dia muncul, menjelang Isya saya terkejut. Pangling. Dia berkerudung selayaknya warga kampung, dan membawa gembolan isi perlengkapan shalat.

“Kaget, ya? Ya, habis ngaji dia. Di panggung dan di rumah memang beda, “ kata suaminya. Wah, pikiran saya cepat terbaca.

Perkenalan saya dengan Titiek Nur (almarhumah) dan suaminya mengajarkan saya banyak hal baru. Bahwa latihan grup bisa dilakukan di ruang kecil, dengan suara yang begitu pelan sehingga tak mengganggu tetangga. Bahwa ‘sound’ di panggung, memang hanya pembesaran volume saja. Ketrampilan teknis diasah terus menerus dan berkala di dalam ruang.

Baca Juga:  Bright Gas Juga Sponsor Anugerah Jurnalistik Polri 2018 Ciptakan Jurnalisme Damai

Sesudah itu, suaminya juga mengajarkan saya tentang pasal pasal dalam kontrak pertunjukkan secara rinci. Saya dikenalkan juga pada Fenty Nur – putri mereka, penerus Ken Dedes, yang saat itu masih ABG.

TITIEK SANDHORA alias Oemijati (Bumiayu, 20 Januari 1954) begitu banyak meninggalkan kenangan. Hampir semua lagu yang dinyanyikannya – hampir semua – terutama pada era ‘Dunia Belum Kiamat’, ‘Si Jago Mogok’, ‘Putus Cinta di Batas Kota’ dan ‘Micoma’ membawa saya ke masa lalu, ke masa kanak kanak yang indah di kampung halaman, dan awal di ibukota tahun 1975.

Kadang saya menangis bila memutar lagunya lagi teringat orang orang tersayang di kampung halaman.

Dari banyak Titiek yang saya kenal ini, Mbak Titiek Sandora lah yang paling bikin “baper”. Setiap mendengar lagunya, khususnya era 1970-an, angan angan saya langsung “terbang” ke masa lalu.

TITI DWIJAYATI alias Titi DJ (Jakarta, 27 Mei 1966) hanya beberapa kali bertemu di panggung. Ngobrol sambil lalu. Awalnya dikenal sebagai model, peserta kontes, aktif di grup ‘Swara Mahardika’ asuhan Guruh Soekarnoputra.

Dia pernah mengikuti ajang Miss World tahun 1983 di London, satu angkatan bersama dengan aktris Michelle Yeoh (Miss Malaysia) dan Maggie Cheung (Miss Hongkong). Titi juga sempat main film, antara lain ‘Gepeng Bayar Kontan’ ikut grup Lenong Rumpi. Dan belakangan menjadi penyanyi dan dinobatkan sebagai Diva.

Sejujurnya saya tidak begitu dekat dengan artis yang satu ini.

TITIK HAMZAH (Bukittinggi, Sumatera Barat, 16 Januari 1949). Ketika saya terjun ke wartawan hiburan, Mbak Titik Hamzah sudah berkurang aksi panggungnya. Namanya identik dengan Dara Puspita, dan di era 1980-an, lebih banyak dibicarakan sebagai legenda ketimbang beraksi di pentas.

Tapi Titik Hamzah adalah pencipta lagu dan musisi yang produktif. Tanpa Dara Puspita dia tetap eksis – bahkan sampai kini. Obrolan dengannya yang intens berlangsung di pesawat, saat rombongan kami ke New York. Waktu itu, mbak Titik mengembangkan hobinya sebagai peramal, dan pembaca rajah tangan. Saya jadi salahsatu pasiennya.

Baca Juga:  Moeldoko (Kepala Staf Kepresidenan): “Saya Memilih Fokus Bekerja."

TITI QADARSIH (Pare, Kediri, Jawa Timur, 22 Desember 1945) saya wawancarai di sekolah model yang dipimpinnya (TQ Modelling) di kawasan Taman Puring, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kami cepat akrab dan dia banyak bicara tentang berbagai hal. Pada dasarnya orangnya memang familiar.

Titi Qadarsih bukan hanya peragawati, yang populer pada dekade 1970-an, dan bersama sama Christine Hakim dijuluki “Twiggy Indonesia” dengan ciri khas “kutilang darat” (kurus, tinggi langsing, dada rata). Mbak Titi Qadarsih juga seorang penyanyi, dan juga ‘dubber’ (pengisi suara) film yang handal. Hampir semua film Jenny Rachman pada awal karirnya, di-dub oleh Titi Qadarsih.

Saya kenangkan mbak Titi Qadarsih dengan curhat dan nasehatnya yang unik – yang kemudian saya alami dan rasakan sendiri. Katanya, dia paling suka bersepi sepi, bicara dengan diri sendiri, menikmati kesendirian di kamar. Bahkan kadang dia menangis sendiri. Dan itu indah, katanya. Nikmat rasanya, katanya.

Bertahun kemudian saya membuktikannya. Saat jauh dari anak anak, setelah pisah dengan ibunya. Saya menyendiri di kamar. Saya puas puaskan bicara sendiri, menangis sendiri. Dan sesudah itu hati terasa lega.

TITIEK PUSPA alias Sudarwati alias Kadarwati alias Sumarti. Lahir di Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 01 November 1937. Namanya diganti ganti karena masa kecilnya penyakitan dan ganti nama sebagai upaya penyembuhan.

Siapa tak kenal legenda yang satu ini? Saya mewawancarai intens di rumahnya di Jl. Sukabumi – Menteng, dan kerap jumpa di berbagai acara, terutama yang diselenggarakan oleh Malibu 62 dimana John Wiwiek Setiawan, pemilik Malibu 62, merupakan salahsatu “anak asuh”nya.

Saya mewancarinya sejak masih memanggilnya dengan ‘Mbak Titiek’ (1980-an), lalu ‘Ibu Titiek’ (1990-2000an), kemudian ‘Eyang Titiek’ (belakangan ini). Dia termasuk artis yang paling panjang rentang karirnya dan nyaris tak pernah mengalami vakum, sejak memenangi Pemilihan Bintang Radio di tahun 1954. Karya berkesan darinya adalah ‘Bing’ (1974, Grace Simon), ‘Jatuh Cinta’ (Eddy Silitonga), ‘Kupu Kupu Malam’ (1977 dinyanyikan sendiri) ‘Cinta’ (Bimbo), yang populer hingga kini.

Baca Juga:  AMDI Jalin Kerjasama Dengan Ragam Bisnis Digital

Majalah politik ‘Editor’ pernah membuat laporan utama menyambut usianya ke 60 dimana dia menyatakan akan “pensiun” . Namun hingga kini nyatanya masih sering tampil di panggung. Khalayak masih merindukannya.

Titik Puspa adalah artis otodidak. Dia tak bisa membaca partitur, bahkan kesulitan membaca not angka . Saat mencipta lagu dia hanya mendendangkan “na.na.na.na.”. lalu Mus Mualim, suaminya, yang dikenal sebagai musisi jazz, mengiringi dengan piano dan menuliskannya sebagai lagu.

Titiek Puspa adalah artis yang selalu “update” dengan musik musik mutakhir. Saya ingat ketika dia ikut “nge-rap”, lalu menyebutnya sebagai “lagu ndremimil” . Dalam bahasa Jawa, “ndremimil” artinya meracau.

Titiek Puspa adalah artis multi telanta. Selain menyanyi dan mencipta lagu sejak era Bung Karno masih jaya, – praktis dia mengenal dan mengalami semua presiden di Indonesia – Titiek Puspa juga main film. Dia juga menyutradarai operet. Yang paling terkenal di zaman jayanya TVRI adalah “Operet Lebaran”.

Dari karir aktingnya di film, beberapa filmnya yang berkesan saya adalah drama komide satire “Inem Pelayan Sexy” (tiga seri, disutradarai Nya Abbas Acub, 1976) dan “Gadis” (1980) .

Di film “Gadis” itu, selama suting dia mencomblangi Dewi Yull dan Ray Sahetapy yang juga menjadi pemeran utamanya, hingga tak lama kemudian keduanya menikah.

Mbak Titik Hamzah, terima kasih untuk fotonya ya. Bikin hati “nglangut”, membawa saya pada kenangan masa lalu.


Catatan Tengah Dimas Supriyanto

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.