“Catatan Tengah, itu muncul di facebook dan banyak penggemarnya. Saat itu, sebelumnya secara iseng saya berkomentar ke almarhum Derek ketika menulis di FB,” ujar S.S Budi Rahardjo, Pemred majalah MATRA dan CEO majalah eksekutif.

“Jika Gunawan Moehamad punya catatan pinggir di majalah Tempo, tulisan Abang Derek ini, dijadikan saja bernama Catatan Tengah,” demikian massager-Jojo, ke mantan Pemred RCTI ini lewat media sosial Facebook. Pasalnya, tulisan itu demikian keren, asyik dan enak dibaca, tampak netral.

Maka, sejak itulah tulisan demi tulisan oleh Derek Manangka, diberi kolom yang disebut: Catatan Tengah Derek Manangka.

Banyak yang kemudian ketagihan dan terus berinteraksi di medsos, gara-gara “Catatan Tengah”nya. Menjadi inspirasi, menangkap isyu-isyu penting. Analis yang berwawasan luas. Bahasanya enak dibaca, logika berpikirnya runtut.

“Senin akan dimakamkan di Pondok Rangon,” ujar Jojo, yang kemarin, ikut kebaktian pelepasan di Rumah Duka, Kamar Jenasah RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Derek Manangka, yang menghadap Sang Khalik, memang meninggalkan kesan mendalam di kalangan rekan dan teman sejawat. Masyarakat juga kehilangan wartawan dengan kemampuan analisa yang menggugah dan mencerahkan.

Banyak rekan sejawat yang datang ke RS Fatmawati, dimana almarhum sudah terbujur dalam damai jenasahnya di peti. Bagi relasi terus memberi penghormatan terakhir, melihat bang Derek dengan jubah jas ganteng, sebelum dimakamkan.

Mantan wartawan Media Indonesia yang kemudian hijrah ke RCTI sebagai Pemimpin Redaksi RCTI. Pernah ditugasi pemiliknya Hary Tanoesoedibyo untuk membidani, melahirkan dan menerbitkan sebuah koran. Namanya Koran Seputar Indonesia.

“Bung DM merupakan perintis berdirinya Koran Sindo yang waktu itu dimodali HT, saya bersyukur DM mengajak saya dalam sejarah pendirian koran tersebut, saya ikut dalam rombongan perintis koran tersebut,” ujar Ferry Rende memberi kesaksian.

Baca Juga:  Pembaca Majalah Cetak Ekslusif dan Sudah Memiliki Pasar Tersendiri

“Ferry, silahkan kamu rekrut wartawan-wartawan yang handal yang sudah siap dan jadi untuk mengawali mengelola Koran Sindo,” kata Ferry mengutip perintah Almarhum ketika menawari dirinya ikut bersama melahirkan Koran Sindo.

“Saya langsung terbang dari Manado ke Jakarta begitu ditelpon DM, maka mulailah perekrutan itu di ruang kerja DM di RCTI Kebon Jeruk, Jakarta Barat,” kenang Ferry mengisahkan almarhum.

Pertama kali akan mendirikan koran Sindo, Ferry kemudian menghubungi mantan anak buahnya di Koran Mandiri, Edi Winarto untuk bergabung bersama. Mantan wartawan Jawa Pos Grup ini diajak Ferry berjuang bersama.

“Kami bersama bang Derek Manangka, dan Ferry mulai menyiapkan Koran Sindo di sebuah ruangan yang dulunya bekas Gudang di belakang Wisma Indovision, Jalan Panjang, Green Garden, Jakarta Barat,” papar Edi Winarto, yang juga ikut mengantar kepergian almarhum, melayat jenasah kemarin sore.

“Selamat jalan bang Derek,” begitu S.S Budi Rahardjo dan Edi Winarto mengantar dengan doa.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.