ANTARANEWS.co. id. Eranya konvergensi media sekarang ini, media cetak juga memiliki digital. Di era digital, sebuah perusahaan media tidak bisa hanya mengandalkan media cetak. Terjadi proses metamorfosisnya.

Kini media baik cetak maupun elektronik tak bisa menyajikan berita sesuai kemauan sendiri. Media sekarang harus pintar melihat topik apa yang menarik perhatian para pembaca. Eranya sudah beda.

Ada yang namanya artificial intelligence, ya, dengan data yang diterima itu, si media digital bisa tahu, berita yang disukai oleh dia dan memang dicari. Majalah TIME, perusahaan media asal Amerika labil, untuk media di Indonesia dalam proses “diambil alih” majalah MATRA, bergabung dengan majalah eksekutif dan HealthNews.

Setelah mengakuisisi Majalah Eksekutif, giliran www.majalahtime.com dipegang perusahaan media yang berbasis konvergensi: yakni majalah cetak, E-magazine dan Online. Juga akan berkembang ke TV.

“PT Usaha Konvergensi Media, memang mencari beberapa media yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai masalah. Khususnya, dalam proses tumbuh kembangnya,” ujar S.S Budi Rahardjo, CEO majalah MATRA yang juga Pemimpin Redaksi majalah MATRA. Ia mengembangkan eksekutif.id dan matranews.id, termasuk mengembangkan TV digital.

PT UKM mengajak pemilik lama untuk menyesuaikan perkembangan zaman yang ada. Konteksnya, merangkul internet dan menjadi format utama di masa depan. Seperti diketahui, di Amerika terjadi keterpurukan industri media cetak akibat dari sengitnya gempuran digitalisasi.

Bagaimana di Indonesia, ya memang ada beberapa media cetak yang rontok dan menutup usahanya. Yang bertahan hingga kini, adalah media yang memiliki penggemar fanatik, kembali ke eranya jaman Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), sebelum era reformasi dimana media cetak terbatas.

“Saya tidak memprediksi keadaan di Indonesia, saya peneliti, bukan cenayang,” ujar Profesor Janet Steel, ketika ditanya keadaan media massa di Indonesia. Akan tetapi, menurutnya, perkembangan jalur internet menjadikan semua media massa berkonvergensi ke media digital. “Jadi, ada media cetak dan digitalnya sama-sama berjalan,” ujarnya.

Baca Juga:  Majalah Eksekutif Di Era Konvergensi Media, Online, E-magazine dan Fokus di Cetak (print)

Perempuan bertubuh langsing dengan rambut sebahu itu dari George Washington University itu menyebut banyak pengiklan tak otomatis mau mengalihkan biaya promosinya untuk serta merta ke media online. “Ketika orang baca berita, kemudian muncul iklan, buru-buru mereka mencari huruf X, klik, untuk menutup iklan. Sehingga pemasang iklan malas memasang iklan di online,” ujarnya.

“Itu yang membuat media massa di Amerika tak bisa bertahan hidup,” ujar Janet Steel. Ia memprediksi Indonesia dan India memiliki kesamaan, kondisi internet masih belum merata dan hanya media yang bisa efesien dan spesifik diminati. Eksistensi tak serta merta di sosmed ada dimana. Aktualisasi diri, perusahaan atau figur usia 40 ke atas masih senang untuk tampil di media cetak.

“Hari gini, orang senangnya beli satu, dapat dua untuk pemasang iklan. Ini terjadi di negara yang jaringan internetnya belum merata, di Indonesia. Media cetak masih laku, karena lebih ekslusif, bisa dipajang di ruang tamu, perpustakaan akademis, juga menjadi goodybag yang diminati,” jelas Asri Hadi, peneliti dari FIS UI.

Peneliti yang jurnalis ini menyebut media cetak masih diminati, dan ada pasarnya tersendiri.

baca juga:  majalah Time.com

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.