07

Tagline itu benar adanya.

Flash back 30 tahun lalu. 15 Juli 1979, munculah majalah bernama: Eksekutif. Pada periode sukses, majalah dengan tagline bacaan pilihan eksekutif mencapai 20 ribu eksemplar dan hampir tanpa konsyiyasi (sold out).

Buat ukuran majalah bisnis, angka ini – di masa itu – demikian fantastis. Untuk kategori majalah bisnis, Majalah Eksekutif demikian berkibar. Waktu berjalan, kesuksesan diraih.

Di sekitar 1999, tanpa diduga, krisis moneter terjadi dan mengibas pula ke Indonesia. Situasi sosial dan politik tidak menentu. Saat itu, dolar tak terkendali dan tiba-tiba bisa melesat melebihi Rp 15 ribu per dolar.

Gonjang ganjing politik. Peta ekonomi Indonesia kacau balau. Tak pelak, dolar yang melejit, membuat semua harga menjulang tinggi. Dunia pers pun, ikutan kacau. Bagaimana tidak, harga kertas terkerek ke atas. Berbanding dengan itu, daya beli masyarakat, justru menurun.

Situasi demikian, membuat citra bangsa ini terpuruk di mata asing. Perekonomian Indonesia pun oleng. Buntut dari itu, beberapa media massa limbung. Termehek-mehek.

Kenapa?

Karena banyak pemasang iklan, tak mau memasang iklan produknya di media massa, dengan alasan efesiensi. Tak terkecuali, majalah semacam Eksekutif, terkena imbasnya.

Kala itu, banyak perusahan lebih baik konsolidasi dibanding memasang iklan. Walau sesungguhnya, strategi demikian tak terbukti baik. Namun realitasnya demikian. Pendapatan berkurang, penghasilan melorot tajam.

Mau tak mau, suka tak suka, majalah Eksekutif pun, kemudian melakukan serangkaian langkah penyelamatan.

Kepemilihan majalah eksekutif berpindah.

 

Jika pada awalnya PT Trends Media, perubahan terjadi sesuai kondisi kala itu. Toety Aditama melepas sahamnya ke keluarga Bondan Gunawan, Mensekab era Gus Dur.

Penerbit Majalah Eksekutif adalah PT Pewarta. Namun, setelah terjadi peralihan “tongkat estafet” terjadi, tak berarti jalan Majalah Eksekutif mulus.

Baca Juga:  Majalah TIME diakusisi MATRA, bergabung dengan Majalah Eksekutif?

Majalah Esekutif masih “terseok”, dan mengalami pasang surut sebagai penerbitan. Sampai pada waktunya, awal 2009 menjadi titik pijak PT recapital “mengambil alih” tongkat komando.

Recapital menjadi pemilik 51% saham Majalah Eksekutif, saham mayoritas. Nama perusahaan pun berubah. Penebit majalah eksekutif menjadi kewenangan PT Alberta.

Awalnya, injeksi modal ini tak diiringi SDM untuk membenahi, situasi majalah eksekutif yang memasuki titik terendah dalam perkembangannya. Manajemen belum tertata. Sistem belum dibentuk. File-file yang ada tidak dikoordinir dan ditata dengan baik. Iklan pupus. Hanya satu pemasang iklan, sementara biaya produksi besar.

Saat itu, PT Recapital masih mencari-cari orang yang tepat untuk membenahi majalah eksekutif.

Baru pada bulan ketiga, PT Recapital menemukan orang yang tepat. Dibajaklah orang yang hebat.

Begitu “tongkat komando” diserahkan kepada S.S Budi Rahardjo, seorang “pengrajin media” yang kerap memoles serta mereksturusisasi penerbitan majalah. Sederetan langkah langsung terasa.

Majalah eksekutif lebih jelas kepemilikannya. Jika selama ini, majalah eksekutif masih berpatokan pada surat ijin SIUPP (Surat Ijin Penerbitan Pers) era Orde Baru, sejak di bawah recapital langsung diurus hak ciptanya.

Majalah eksekutif terlegitimasi sebagai majalah yang sadar akan hak cipta. Karena terus terang saja, banyak sekali majalah sejenis yang mengekor ketenaran majalah eksekutif di saat berkibar.

Sempat muncul nama majalah EksekutifNews, yang sesungguhnya bukan dan tak ada hubungannya dengan majalah eksekutif. Namun, diluaran, konon, melakukan serangkaian karya jurnalistik “tak etis”.  Banyak lagi yang membonceng ketenaran brand eksekutif.

Di tangan penerima beasiswa Ford Foundation untuk investigative reporting itu, majalah Eksekutif langsung berubah. Nampak tumbuh sehat.

Sejak disuruh membenahi, produk majalah eksekutif langsung berubah. Positioning terjadi. Restrukturisasi dan sederetan langkah berjalan. Sebagai anggota serikat penerbit surat kabar (SPS), majalah eksekutif di bawah PT Alberta mendapat legitimasi.

Baca Juga:  Asosiasi Wartawan Korea Kunjungi Pulau Dewata

Majalah Eksekutif kembali diperbincangkan. Mulai dilirik pemasang iklan. Serangkaian langkah dilakukan. Dari segi isi, benang merah konten Majalah Eksekutif tetap dipertahankan. Hanya saja, inovasi dijalankan, perencanaan isi dan cover dimatangkan.

Dibentuklah bank naskah timeless. Jaringan sirkulasi diperkuat. Sistem penjualan disempurnakan. Tak hanya itu. Promosi dilakukan, dengan terarah dan terukur. Hubungan dengan biro iklan lebih diintensifkan dan “digedor” lebih kencang.

Logo dan tagline berubah. Tak pelak, permintaan tiras bergerak naik. Dari titik terendah merangkak ke atas. Perolehan iklan mulai terasa membaik.

Kini, PT Alberta ingin memasuki digital. Langkah-langkah yang dilakukan majalah eksekutif, pun “menggandeng” dan melepaskan sahamnya PT Usaha Konvergensi Media.

Tetap di media cetak, tapi kini majalah eksekutif juga bisa didapat di higoapps.com, myedision.com dan gramediadigital.com. Berkembang ke digital, termasuk ke TV digital, dan teknologi buzzer media.

Di era digital, majalah eksekutif komitmen hadir terus di media cetak. Satu grup dengan majalah MATRA.

Karena edisi cetak tetap ada penggemarnya, khususnya beberapa perusahaan yang berulang tahun, majalah eksekutif kerap dijadikan goody bag, dibagikan ke klien mereka.

Majalah yang pada 2009 lalu, dianugrahi oleh Museum Record Indonesia (MURI) sebagai: majalah bisnis pertama di Indonesia.

 

Patokan dari MURI, majalah eksekutif sudah memperoleh Surat Ijin Penerbitan Pers (SIUPP) — syarat boleh menerbitkan pers pada rezim Soeharto – sejak 1979.

Pertama kali meluncur, Majalah Eksekutif masih berharga Rp 2500. Kini majalah Eksekutif mematok harga Rp 90.000. Halaman pun semakin tebal. Isinya lebih berwarna dan bervariasi. Tulisannya tidak njlimet. Foto-fotonya semakin baik.

Kenyataan yang tak dapat dipungkiri pula, majalah eksekutif saat ini, menjadi kebutuhan kaum eksekutif.

“Jangan mengaku eksekutif jika belum membaca majalah eksekutif,” ujar S.S Budi Rahardjo, Corporate Chief Editor majalah eksekutif.

Baca Juga:  DR. H. Saefullah, M.Pd Sekda Provinsi DKI Jakarta Opening Launching Program Bank Sampah LPBI NU

Pria yang sempat di grup majalah Tempo (Swa Sembada dan Matra), kemudian menjadi konsultan media cetak dan aktif di TV kabel ini, bertekat mengembalikan masa kejayaan majalah eksekutif menuju era keemasan.

Perlahan tapi pasti, terbukti sudah hasilnya. Ringkasnya, Majalah Eksekutif berkeinginan menjadi majalah yang baik, punya idealisme dan menguntungkan buat pembaca dan pemilik.

Yang lebih penting lagi, “Bacaan pebisnis dan gaya hidup” ini bisa memberikan kesejahteraan kepada karyawannya.

Sejarah mencatat, majalah eksekutif sekarang ini lumayan diminati pemasang iklan. Pembaca meningkat termasuk langganan fanatik. “Karena positioning dipertajam,” jelas mantan redaktur eksekutif majalah Matra.

Kini, majalah eksekutif memasuki era konvergensi media.  Rintangan telah dilewati dengan selamat. Berbagai tantangan dihadapi dengan perkasa.

“Kami ingin majalah eksekutif tak sekedar selamat, tapi eksis,” jelas Jojo – nama panggilan — sang nahkoda bacaan pebisnis dan gaya hidup itu, panjang lebar.

 

baca juga: majalah eksekutif cetak (print) terbaru – klik saja

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.