ANTARANEWS.id – Majalah eksekutif melakukan riset ke 200 CEO, dari kelas menengah hingga unit usaha papan atas.

Ternyata, hasil dari pertanyaan itu, didapat kesimpulan pengusaha mengeluh pajak tinggi. “Doing business naik gila-gilaan,” ujar mereka terus terang.

Pengusaha itu menyampaikan pernyataan bersama (joint statements),  merasa terbebani dengan target pajak yang ditetapkan oleh pemerintah.

CEO yang ditanyai dan mengisi kuisioner, enggak membicarakan ganti presiden atau Presiden Jokowi terus. Yang penting adalah, “Presiden mendatang,  jangan buat orang susah. Seperti kita-kita susah.”

“Untuk pajak, jangan terlalu tinggi. Karena, petugas pajak jadi tidak objektif, kejar setoran dan akhirnya Wajib Pajak terzolimi dengan jumlah setoran pajak tinggi sekali,” ucap pengusaha minuman.

Masih soal situasi saat ini, terlepas dollar yang melambung tinggi. Harusnya pemerintah introspeksi dengan cepat saat ini. Masukan para CEO, kritik terhadap kinerja disikapi dengan baik. Pasalnya, pemerintah kurang kontrol petugas lapangan, membuat biaya tinggi untuk kita-kita yang berusaha, “Double cost.”

“Di lapangan, duit terus digerogoti sama petugas di lapangan. Enggak ada duit, enggak jalan. Dicari-cari masalah dan alasan terussss…..,” demikian kesaksian seorang CEO, yang mengisi kuesioner dari majalah eksekusif,  bahwa kondisi perekonomian Indonesia tidak seindah apa yang digambarkan oleh pemerintah saat ini.

Indonesia saat ini pertumbuhannya menurun hingga di angka 5% pada tahun ini. Ekonomi Indonesia sedang mengalami perlambatan trennya melemah. Pertumbuhannya dari 8% turun 7% turun 6% turun 5%.

Saran dari CEO yang mengisi kuisioner, pemerintah jangan selalu menyalahkan kondisi global. Padahal, yang bermasalah bukanlah kondisi global melainkan kondisi tubuh dari perekonomian Indonesia yang tidak sehat.

“Betul juga kalau semua dipicu faktor luar. Hanya saja, kalau daya tahan tubuh kita lemah kita sakit. Jadi, jangan menyalahin situasi faktor luar terus, faktor luar bisa kita tepis kalau daya tahan tubuh kita bagus,” demikian komen para pimpinan usaha itu.

Baca Juga:  Yusril Tentang Dukungan Kepada Paslon Presiden: "PBB Manut Sama Ulama."

Intinya, “Kalau mau tegas di atas. Di lapangan, di monitor sepuluh ribu persen. Jangan malah di bawah, membuat sulit orang biasa kayak kami,” tutur para CEO itu “curhat’ kepada majalah eksekutif.

Fungsi kontrol yang sekarang ini kurang. “Jangan sampai double cost, pajak tinggi, cost doing business naik gila-gilaan, karena orang lapangannya pada nakal,” paparnya menekankan, sekali lagi. “Kalau mau tegas di atas, di lapangan dimonitor 100000%, karena buat sulit, orang biasa kayak kita,” demikian diulang pernyataannya.

baca juga: majalah eksekutif cetak (print) terbaru – klik ini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.