ANTARANEWS.co.id – Udara akan semakin dingin di wilayah pegunungan atau dataran tinggi.

Hal ini membuat embun di pagi hari yang biasanya cair kemudian membeku karena suhu udara turun hingga 5-6 derajat Celcius, bahkan bisa 0 derajat Celcius di permukaan bumi.

Jumat kemarin, warga dataran tinggi Dieng Jawa Tengah dikagetkan dengan “fenomena salju” yang mendadak menyelimuti pekarangan dan kebun mereka.

Sejauh mata memandang, terdapat hamparan berwarna putih dengan udara dingin yang diperkirakan mencapai minus 5 derajat Celsius.

“Kalau orang sini, bilangnya Bun Upas atau embun yang membeku. Jadi sejauh mata memandang itu ya berwarna putih, embun-embun yang berubah menjadi es menutupi seluruh tanaman dan daun pepohonan,” ujar warga lereng Pegunungan Dieng.

Ini berbeda dengan salju. Kalau salju kan turun dari atas, kalau ini embun yang membeku. “Dulu biasanya ketika Agustus baru terjadi Bun Upas, tapi sekarang maju menjadi awal Juli,” ujar warga.

Menurutnya, fenomena embun beku atau bun upas akan sering terjadi selama masa puncak kemarau. “Namun tidak setiap, bervariasi, kadang terjadi kadang tidak,” ungkapnya.

Embun beku atau bun upas tidak berdampak buruk bagi kesehatan manusia. Hanya saja memang merusak tanaman kentang yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat Dieng.

Meski udara sangat dingin, namun aktivitas warga masih berjalan normal. Masyarakat yang mayoritas berprofesi sebagai petani tetap berladang untuk memeriksa tanaman kentang yang diselimuti embun es.

“Ya kita tetap berangkat ke ladang. Biasanya es ini munculnya sejak dini hari dan baru mencair ketika matahari terbit. Sekira pukul 06.30 WIB, itu tanaman masih tertutup es, makanya warga kalau ke ladang ya memeriksa kentang,” lugasnya.

Kabag Humas Badan Meteologi, Kalimatologi dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko menjelaskan, kejadian di Dieng adalah fenomena aphelion, yaitu fenomena alamiah yang biasa terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau. Biasanya, udara terasa dingin sehingga membuat embun membeku dan tampak seperti salju.

Baca Juga:  Ali Johardi (Deputi Cegah BNN): "Kita Memang Perlu Antisipasi Sampai Ke Desa."

“Fenomena suhu dingin di malam hari dan embun beku di lereng Pegunungan Dieng lebih disebabkan kondisi meteorologis dan musim kemarau yang saat ini tengah berlangsung,” kata Hary.

Fenomena itu terjadi pada puncak kemarau, panas matahari akan lebih banyak terbuang dan hilang ke angkasa, sehingga menyebabkan suhu udara musim lebih dingin dibandingkan suhu udara pada musim hujan. Selain itu, kandungan air dalam tanah menipis, uap air di udara sedikit yang ditandai dengan rendahnya kelembaban udara.

Menurut Hary, tempat yang berada di ketinggian seperti Dieng, Wonosobo berpeluang mengalami kondisi udara permukaan kurang dari titik beku 0°C, disebabkan molekul udara di daerah pegunungan lebih renggang dari pada dataran rendah sehingga sangat cepat mengalami pendinginan.

Uap air di udara akan mengalami kondensasi pada malam hari, kemudian mengembun dan jatuh ke tanah, dedaunan atau rumput. Air embun yang menempel dipucuk daun atau rumput akan segera membeku yang disebabkan karena suhu udara yang sangat dingin, ketika mencapai minus atau nol derajat.

“Di Indonesia, beberapa tempat pernah dilaporkan mengalami fenomena ini, yaitu daerah dataran tinggi Dieng, Gunung Semeru dan pegunungan Jayawijaya, Papua,” terang Hary.

Fenomena embun beku atau lebih dikenal dengan bun upas di dataran tinggi Dieng, Banjarnegara, Jawa Tengah menarik perhatian masyarakat luas, terutama di dunia maya. Mereka cukup takjub dengan munculnya bulir-bulir es di atas permukaan tanah di Dieng.

baca juga: majalah MATRA edisi terbaru – cetak (print)

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.