ANTARANEWS, Jakarta – Acara ngabuburit bareng Sahabat Polisi dengan tema “Bersama Kita Lawan Radikalisme” digelar di Restoran Handayani, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (8/6/2018) yang lalu.

Biar begitu, gema dari pemberitaan mengenai salah satu persoalan yang dialami bangsa Indonesia dewasa ini, perihal membiaknya paham radikalisme dan terorisme, terus bergulir hingga hari ini.

Bagaimana tidak, paham tersebut juga dibarengi dengan fanatisme religius yang salah kaprah memaknai kebhinnekaan serta Pancasila sebagai ideologi final bangsa dan negara Indonesia.

“Tentang suatu ideologi yang ingin pengganti Pancasila dan dilakukan oleh beberapa kelompok sengaja untuk merusak paham ideologi kita. Ini tentu persoalan serius bagi kita semua,” kata Fonda Tangguh, Ketua Sahabat Polisi kepada kantor berita ANTARA.id

Fonda mengatakan, bahwa kebhinnekaan bagi bangsa Indonesia adalah sebuau keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri.

Namun paham radikal dan terorisme yang muncul justru mencoba merusaknya semua. Maka dari itu, Fonda menyatakan bahwa paham radikalisme dan terorisme merupakan common enemy.

Lebih lanjut, Fonda mengajak kepada seluruh Mahasiswa, Pemuda dan masyarakat Indonesia secara luas untuk saling bergandengan tangan melakukan perlawanan terhadap terorisme di Indonesia.

“Kami dan Polri mengajak teman-teman semua untuk bersama-sama bertindak tegas terhadap radikalisme di negeri ini,” tutup Fonda.

Kiyai Abdul Fatah juga menegaskan bahwa terorisme dan radikalisme sama sekali bukan representasi dari ajaran agama Islam.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Ikatan Pesantren Indonesia (IPI), KH Abdul Fatah mengatakan bahwa menangkal paham radikalisme dan terorisme tidak bisa dilakukan oleh aparat kepolisian saja.

Ia mengatakan peran serta seluruh stakeholder dibutuhkan agar pemberantasan paham yang membahayakan bagi kesatuan dan persatuan Indonesia tersebut dapat ditangani dengan baik.

Baca Juga:  ICSF General Discussion Perlu Dilibatkan Oleh Pemerintah

“Tugas polisi sangat berat, salah satunya adalah kriminal yang extra ordinary, yakni; terorisme, radikalisme dan narkoba. Kalau kita gak percaya ke polisi, maka 3 hal itu tidak bisa ditangani. Bagaimana agar polisi bisa mengatasinya, yakni harus bersama-sama dengan masyarakat,” terang Kiyai Fatah dalam tausiyahnya.

Kemudian Kiyai Abdul Fatah juga menegaskan bahwa terorisme dan radikalisme sama sekali bukan representasi dari ajaran agama Islam. Apalagi salah satu tujuan diturunkannya Islam menurut Kiyai Fatah adalah menjadi kebaikan bagi seluruh alam semesta.

“Radikalisme dan terorisme itu jelas bukan gerakan agama. Tapi ya itu memang tidak ada agamanya. Kita harus cerdas mana yang agama dan mana yang hanya menginstrumentalisasi agama. Dan menginstrumentalisasi agama itu adalah yang jauh lebih berbahaya,” terangnya.

“Karena jelas Islam itu tidak ngajarin ngebom. Islam utu rahmatan lil alamin. Islam sangat menjunjung nilai kemanusiaan. Tidak hanya Islam saja dan semua agama tidak ada yang mengajarkan membunuh orang lain dengan seenak-enaknya. Semua agama mengajarkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” tegas Kiyai Fatah.

baca juga: Majalah MATRA cetak (klik ini)

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.